Trading

The Average Discounts Everything

Mungkin ketika pertama kali membaca judul di atas, Anda mengernyitkan dahi Anda.

Opo iki maksud e?

Tenang, sebenarnya ini adalah sesuatu yang sangat sederhana dan mudah dipahami banget dan saya yakin Anda pasti akan paham juga.

Analisa teknikal, kita tidak akan mungkin bisa melupakan sosok yang sangat berjasa akan perkembangan ilmu ini. Yaitu bapak teknikal analisis, Charles Henry Dow. Siapa Charles Dow ini? Beliau adalah penemu analisa teknikal dan juga yang menemukan indeks Dow Jones.

Dow Jones Industrial Average yang Anda kenal sekarang adalah indeks yang diciptakan Charles Dow, dulu ada satu indeks lagi yaitu Dow Jones Transportation Average.

Mengapa Charles Dow menciptakan Indeks Dow Jones?

Charles Dow menciptakan indeks Dow Jones karena Dow melihat bahwa market tidak bergerak secara random, market bergerak dalam sebuah pola yang bisa diprediksi.

Dua indeks yang dibuat Charles Dow, Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Dow Jones Transportation Average (DJTA) saling berhubungan.

Kenapa industri dan transportasi? Karena pada zaman itu, saham – saham yang mendominasi adalah saham pada sektor industri dan transportasi karena sedang boomingnya zaman industrialisasi pada saat itu.

Untuk mengirimkan barang – barang hasil industri, diperlukan perusahaan transportasi. Maka, Dow melihat ketika DJIA naik, maka tidak lama DJTA juga akan menyusul. Hal ini terus terjadi sehingga menimbulkan pola.

Dari pengamatan Dow, Dow menciptakan 6 Dow Theory:

1. Average discounts everything

2. Market has three movements

3. Market has three phases

4. The average must confirm each other

5. Volume must confirm the trend

6. Price resumes until definitive signal that it has ended

Kita bahas yang pertama dulu ya, the average discounts everything.

Apa maksudnya?

Menurut Charles Dow, segala sesuatu yang akan terjadi sebenarnya sudah tergambar dari chartnya.

Kenapa bisa demikian?

Ingat, teknikal analisis bukanlah ilmu gaib yang bisa memprediksi secara 100% kemana arah harga akan pergi. Tapi teknikal analisis sebenarnya adalah membaca supply and demand secara detail.

Sekarang saya tanya pada Anda, apakah barang bagus selalu harganya naik? Belum tentu, barang bagus baru akan naik harganya ketika banyak orang yang membelinya..

Bagaimana dengan barang jelek? Apakah selalu akan turun? Belum tentu, barang jelek baru akan turun ketika banyak orang menjualnya..

Jadi di market bukan hanya bagus bagusan saja. Tapi apakah ada demand yang mendorong kenaikan harga.

Nah, siapa yang bisa mendorong demand sebesar itu?

Institusi, dana pensiun, reksadana, dan asset management.

Sekarang saya tanya pada Anda, apakah orang – orang yang mengelola dana sedemikian besar, miliaran hingga jutaan dollar membaca berita seperti Anda dan saya membaca berita?

Tentu tidak!

Apakah mereka orang yang setelah baca berita baru bertindak atau mereka sudah tahu karena luasnya jaringan mereka? Bahkan terkadang merekalah sumber beritanya.

Apa hubungannya dengan Dow Theory yang pertama?

Hubungannya adalah, untuk tahu kemana arah harga akan bergerak Anda perlu membaca kekuatan supply dan demand yang sudah terbentuk di dalam chart. Pola pola yang terbentuk di dalam chart ini bisa Anda pelajari dengan sederhana.

Contohnya:

30 Juli 2018 – efek keputusan DMO terhadap harga saham ADRO

Chart di atas adalah chart saham ADRO (PT. Adaro Energy, Tbk.) Saham tambang batubara dengan kapitalisasi terbesar di Indonesia. Dan kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) yang mewajibkan perusahaan batubara yang menyuplai ke PLN dengan penetapan harga yang fix sehingga tidak lagi mengacu pada harga batubara dunia. Padahal saat itu harga batubara sedang naik – naiknya.

Tidak peduli bagaimanapun beritanya, harga sudah terbentuk pola rising wedge yang merupakan pola bearish, sehingga unjung – ujungnya harga tetap akan turun mencapai targetnya.

3 Agustus 2018 – Gold naik saat news Non Farm Payroll

Setiap jumat pertama setiap bulan, akan diumumkannya news Non Farm Payroll yang mencatat berapa banyak tenaga kerja yang terserap di sektor non pertanian di Amerika Serikat. Hal ini sangat berdampak pada ekonomi Amerika dan pergerakan USD, terutama harga emas.

Gold naik menjelang news NFP karena terbentuknya pattern Falling Wedge yang merupakan bullish pattern atau pattern yang memiliki tendensi untuk naik.

Nah, begitulah yang dibilang oleh Charles Dow dalam Dow Theory, market action discounts everything. Segala sesuatu yang akan terjadi di pasar sudah tergambar dari pola aksi harga sebelumnya sehingga begitu munculnya news justru akan memicu harga menuju target pola yang sudah terjadi sebelumnya.

Pola falling wedge dan rising wedge ini adalah pola yang cukup sering ditemui di market saham maupun forex dan ini merupakan pola yang masih sangat basic, namun powerful. Anda bisa belajar lebih dalam di The Battleplan yang akan menunjukkan lebih banyak pattern lagi yang bisa Anda gunakan.

Langsung klik link di bawah ini sekarang juga!

https://www.tradingacademyid.co/product-page/the-battleplan-online-course

Let the profits be with you

Trading Academy ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *